Pendakian pertama di tahun 2015.
Double summit.
Kayanya ngga akan.
Atau gimana nanti.
Berawal dari ajakan seorang teman yang dikenal sejak
berkunjung ke Merbabu tahun lalu. Kemudian kebimbangan yang melanda antara ikut
atau tidak. Akhirnya tercetuslah keputusan untuk ikut tadabbur alam kali ini.
Gunung Gede – Pangrango via Cibodas, itulah tujuan kami.
Sekilas perkenalan dan Sejarah tentang Gunung
Gede-Pangrango.
Gunung Gede-Pangrango atau sering disebut Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango (TNGGP) adalah salah satu Taman Nasional yang terletak di
Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, kawasan TNGGP berada di wilayah 3
kabupaten yakni Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Ditetapkan pada tahun
1980, taman nasional ini merupakan salah satu yang tertua di Indonesia. Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango didirikan untuk melindungi dan mengkonservasi ekosistem dan flora pegunungan cantik di Jawa Barat. Taman Nasional ini memiliki
2 puncak, yakni Puncak gede (2958 mdpl) dan Puncak Pangrango (3019 mdpl). Dua
puncak ini dihubungkan oleh salah satu kawasan yang dikenal bernama Kandang
Badak. Gunung Gede memiliki 4 kawah yang masih aktif yakni Kawah Ratu, Kawah
Wadon, Kawah Lanang, dan Kawah Baru.
Beranggotakan 11 orang yang berasal dari Surabaya (Mas
Fattah), rombongan dari Universitas Indonesia (Mas Nafian, Mas Galih, Mas
Rizal, Mas Bahrul, Mbak April), rombongan dari Institut Teknologi Bandung
(Erna, Dwi, Mas Yaqin, Ridwan) dan saya yang berasal entah darimana.
(*fyi, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung
merupakan salah dua dari sekian banyak kampus bergengsi di negri ini)
Terminal Bus Leuwipanjang, awal dari keberangkatan menuju
cibodas bagi yang berdomisili di Bandung. Erna dan Dwi berangkat lebih dulu
daripada saya dan Ridwan. Dikarenakan Ridwan harus menunggu saya selesai tugas
dari kantor. Pada pukul 01.30 WIB, saya dan Ridwan menumpangi Bus jurusan
Bandung-Sukabumi dengan ongkos Rp. 20.000,- dan waktu tempuh 3 jam, turun di
Cianjur (Ramayana), dilanjut menumpangi angkutan umum berwarna Biru menuju arah
Cibodas dengan ongkos Rp. 8.000,-, turun lagi di pertigaan sesuai arahan supir
angkot. Saya dan Ridwan menyempatkan diri ke minimarket disana untuk membeli
perbekalan. Dilanjutkan kembali dengan menumpangi angkutan umum berwarna kuning
menuju pertigaan Cibodas dengan ongkos Rp. 2.000,-. Turun tepat dipertigaan,
dan kendaraan terakhir yang harus ditumpangi adalah angkutan umum berwarna
kuning (juga) menuju basecamp gede-pangrango cibodas dengan ongkos Rp. 5.000,-.
Saat menumpangi angkutan umum ini, saya baru sadar kalau perbekalan yang dibeli
dari minimarket tadi tertinggal di angkot sebelumnya. Jadi, kami terpaksa
membeli perbekalan lagi di warung dekat basecamp. Akhirnya, pada pukul 05.30
WIB saya dan Ridwan sampai di BASECAMP GEDE – PANGRANGO.
Diawali dengan doa, pendakian dimulai pada tanggal 19
Desember 2015, ± pukul 06.00 WIB.
Seperti biasa, posisi saya pasti selalu dibelakang rombongan,
ditemani sweeper (Mas Galih dan
Ridwan) karena waktu yang dibutuhkan untuk saya berjalan sangatlah lama.
Perjalanan dari basecamp – Telaga Biru membutuhkan waktu
kurang lebih 30-45 menit. Bagi pendaki yang memang sudah expert, waktu yang dibutuhkan mungkin hanya sekitar 15-20 menit
saja. Trek awal didominasi oleh bebatuan yang telah disusun sedemikian rupa
untuk memudahkan pendakian. Saat sampai di Telaga Biru, kami sempatkan untuk
istirahat sejenak, makan makanan ringan yang dibawa, minum, dan berfoto
bersama. Setelah beristirahat cukup lama, kami pun melanjutkan perjalanan,
Telaga Biru – Rawa Denok. Jalan di Rawa Denok berupa jembatan yang cukup
panjang, disusun dari material beton bertulang yang dibuat sedemikian rupa untuk
memudahkan para wisatawan. Selepas jembatan Rawa Denok, jalan yang akan
dilewati semakin terjal, memutar, dan menguras tenaga.
Setelah berjalan sekian lama, sampailah kami di pos Air
Panas. Di pos Air Panas ini, kami harus melewati aliran air panas dari puncak Gunung
Gede. Trek yang akan dilalui sangatlah berbahaya. Bebatuan yang basah karena
cipratan air membuat batu tersebut jadi licin. Bagian kanan trek yang ternyata
jurang, jalan yang sempit, hanya dengan berpegangan pada tali yang sudah ada di
trek tersebut. Kami harus ekstra hati-hati, apalagi bagi pendaki yang tidak
menggunakan sepatu. Karena air disana benar-benar panas. Selepas pos Air panas
tadi, kami melewati Shelter tempat peristirahatan yang sering digunakan para
pendaki untuk berendam kaki. Sayangnya, rombongan kami tidak berendam air panas
disana karena, terlalu banyak orang yang sedang dan ingin berendam kaki disana.
Pos Kandang Batu adalah tujuan selanjutnya. Pos kandang Batu
ini merupakan wilayah yang cukup luas, dan mampu menampung beberapa tenda bagi
pendaki yang memang ingin berkemah disana. Tapi, kenapa pos ini bernama Kandang
Batu? Apa karena disini banyak bebatuan? Atau ada batu yang diberi kandang?
Entahlah...
Sebenarnya sepanjang perjalanan tadi, penyakit maag saya
sudah kambuh. Karena, dari hari kemarin belum ada makanan yang masuk dalam
perut saya. Alhamdulillah, beberapa orang dari rombongan kami ini mau berbagi makanan
nya ke saya. Dimulai dari Mas Rizal, memberi saya beng-beng. Coklat, yang saya ketahui bisa menambah tenaga dalam
kondisi apapun. Mbak April, yang memberi saya Oatmilk untuk sekedar mengisi lambung. Kemudian Mas Galih, memberi
saya obat (lupa nama obatnya). Terimakasih..............
Sudah cukup lama kami beristirahat di pos Kandang Batu, kami
pun melanjutkan perjalanan kami menuju Kandang Badak. Tempat untuk kami
mendirikan tenda dan beristirahat disana. Waktu yang dibutuhkan dari Kandang
Batu – Kandang Badak berkisar 1 – 1,5 jam. Sesampainya di Kandang Badak,
ternyata sudah ada rombongan kami yang sampai disana lebih dulu. Waktu menunjukkan
pukul 12 kurang sekian menit. Beristirahatlah kami disana sambil mengumpulkan
tenaga untuk berjalan kembali menuju Puncak Gunung Gede. Berasa istirahat belum
cukup, tapi waktu telah menunjukkan pukul 12.50 WIB yang berarti kami harus
mulai berjalan kembali. Hanya beberapa orang saja yang pergi ke Puncak Gunung
Gede ini, kenapa? Karena 3 orang dari rombongan ini memilih untuk tinggal di
Kandang Badak, Siapa saja? Sebut saja mereka Mas Galih, Mas Nafian, dan Ridwan.
Perjalanan Kandang Badak – Puncak Gunung Gede membutuhkan
waktu sekitar 2 jam, itupun jika tidak membawa gembolan besar dipunggungnya.
Trek menuju Puncak Gunung Gede terus menanjak, jarang ada bonus, bahkan bisa
dibilang tidak ada. Saya sendiri pun merasa kesulitan dan kelelahan melewati
jalur ini, terutama di daerah tanjakan setan. Apa? Tanjakan Setan? Kenapa
namanya Tanjakan Setan? Apa karena memang di jalur ini, trek menanjak dan
banyak Setan disana? Ternyata tidak, itu hanya sebuah nama yang berarti
tanjakan yang harus dilewati SANGAT EKSTRIM. Hanya berpegangan pada tali yang
sudah ada di trek, kami harus melewati trek ini. Yang terbesit di otak saya
adalah “naiknya bisa, lah turunnya gimana?” hanya itu yang ada di otak saya.
Dua jam sudah kami berjalan menyusuri jalur ini, populasi pepohonan berkurang, kemiringan
tanah mulai landai, munculah kata “Yes, PUNCAK” di otak. Memperhatikan daerah
sekitar, belum saya temukan plank bertuliskan
PUNCAK GEDE. Dan ternyata memang benar, itu belum puncak, kami masih harus
menyusuri jalan penuh pasir kerikil untuk bisa sampai puncak. Di tengah jalur
pasir kerikil, memang puncak sudah terlihat, tapi masih jauh. Sempat saya
bilang “Udah ah, nyerah. Udah sampai sini aja. Tapi tinggal dikit lagi, paling
juga 5 menit, Tapi udah ga kuat”. Tiba-tiba munculah seorang pria yang membuat
saya takut, dan saya pun berjalan terus, walaupun tetap saja kesusul. Mungkin tinggal
semenit lagi sampai puncak, saya bertemu Mbak April yang baru saja dari puncak.
Saya pun bertanya ke Mbak April “Masih jauh ga Mbak puncaknya?”. Alhamdulillah,
baik hati nya Mbak April mengajak saya ke puncak bersama. Terimakasih Mbak
April
Akhirnya, 19 Desember 2015 pukul 15.40 WIB. Saya sampai di
PUNCAK GUNUNG GEDE 2958 mdpl.
Cerita berlanjut ke Tadabbur Alam: Gede-Pangrango (Part II)
![]() |
| Rombongan minus Mas Nafian di Jembatan Rawa Denok |
![]() |
| Istirahat di Kandang Batu |
![]() |
| Mas Nafian dan Mas Rizal di Kandang Badak |
![]() |
| Sampai di Kandang Badak |
![]() |
| Sampah berserakan yang ada dijalur |
![]() |
| Mas Yaqin dan Mas Bahrul di Puncak Gede |
![]() |
| Mas Fattah di Puncak Gede |
![]() |
| Kiri ke Kanan: Mas Fattah, Mas Yaqin, Mas Bahrul, Erna, Dwi, Mbak April Di Puncak Gunung Gede |
![]() |
| Mas Galih dengan gembolan besanya |
![]() |
| Air Terjun Cibeureum |
![]() |
| Pos Air Panas (1) |
![]() |
| Pos Air Panas (2) |
![]() |
| Istirahat di Kandang Badak |
![]() |
| Iseng-iseng berhadiah |
![]() |
| menuju puncak Gede (1) |
![]() |
| menuju Puncak Gede (2) |
![]() |
| Jalur menuju Puncak Gede (3) |
![]() |
| Jalur menuju Puncak Gede (4) |
![]() |
| Saya dan Mbak April di Puncak Gede |
![]() |
| Kehidupan di dalam tenda |





















