Minggu, 27 Desember 2015

Tadabbur Alam: Gede-Pangrango (Part I)




Pendakian pertama di tahun 2015.

Double summit.

Kayanya ngga akan.

Atau gimana nanti.

Berawal dari ajakan seorang teman yang dikenal sejak berkunjung ke Merbabu tahun lalu. Kemudian kebimbangan yang melanda antara ikut atau tidak. Akhirnya tercetuslah keputusan untuk ikut tadabbur alam kali ini.

Gunung Gede – Pangrango via Cibodas, itulah tujuan kami.

Sekilas perkenalan dan Sejarah tentang Gunung Gede-Pangrango.
Gunung Gede-Pangrango atau sering disebut Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) adalah salah satu Taman Nasional yang terletak di Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, kawasan TNGGP berada di wilayah 3 kabupaten yakni Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Ditetapkan pada tahun 1980, taman nasional ini merupakan salah satu yang tertua di Indonesia. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango didirikan untuk melindungi dan mengkonservasi ekosistem dan flora pegunungan cantik di Jawa Barat. Taman Nasional ini memiliki 2 puncak, yakni Puncak gede (2958 mdpl) dan Puncak Pangrango (3019 mdpl). Dua puncak ini dihubungkan oleh salah satu kawasan yang dikenal bernama Kandang Badak. Gunung Gede memiliki 4 kawah yang masih aktif yakni Kawah Ratu, Kawah Wadon, Kawah Lanang, dan Kawah Baru.

Beranggotakan 11 orang yang berasal dari Surabaya (Mas Fattah), rombongan dari Universitas Indonesia (Mas Nafian, Mas Galih, Mas Rizal, Mas Bahrul, Mbak April), rombongan dari Institut Teknologi Bandung (Erna, Dwi, Mas Yaqin, Ridwan) dan saya yang berasal entah darimana.
(*fyi, Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung merupakan salah dua dari sekian banyak kampus bergengsi di negri ini)

Terminal Bus Leuwipanjang, awal dari keberangkatan menuju cibodas bagi yang berdomisili di Bandung. Erna dan Dwi berangkat lebih dulu daripada saya dan Ridwan. Dikarenakan Ridwan harus menunggu saya selesai tugas dari kantor. Pada pukul 01.30 WIB, saya dan Ridwan menumpangi Bus jurusan Bandung-Sukabumi dengan ongkos Rp. 20.000,- dan waktu tempuh 3 jam, turun di Cianjur (Ramayana), dilanjut menumpangi angkutan umum berwarna Biru menuju arah Cibodas dengan ongkos Rp. 8.000,-, turun lagi di pertigaan sesuai arahan supir angkot. Saya dan Ridwan menyempatkan diri ke minimarket disana untuk membeli perbekalan. Dilanjutkan kembali dengan menumpangi angkutan umum berwarna kuning menuju pertigaan Cibodas dengan ongkos Rp. 2.000,-. Turun tepat dipertigaan, dan kendaraan terakhir yang harus ditumpangi adalah angkutan umum berwarna kuning (juga) menuju basecamp gede-pangrango cibodas dengan ongkos Rp. 5.000,-. Saat menumpangi angkutan umum ini, saya baru sadar kalau perbekalan yang dibeli dari minimarket tadi tertinggal di angkot sebelumnya. Jadi, kami terpaksa membeli perbekalan lagi di warung dekat basecamp. Akhirnya, pada pukul 05.30 WIB saya dan Ridwan sampai di BASECAMP GEDE – PANGRANGO.

Diawali dengan doa, pendakian dimulai pada tanggal 19 Desember 2015, ± pukul 06.00 WIB.
Seperti biasa, posisi saya pasti selalu dibelakang rombongan, ditemani sweeper (Mas Galih dan Ridwan) karena waktu yang dibutuhkan untuk saya berjalan sangatlah lama.

Perjalanan dari basecamp – Telaga Biru membutuhkan waktu kurang lebih 30-45 menit. Bagi pendaki yang memang sudah expert, waktu yang dibutuhkan mungkin hanya sekitar 15-20 menit saja. Trek awal didominasi oleh bebatuan yang telah disusun sedemikian rupa untuk memudahkan pendakian. Saat sampai di Telaga Biru, kami sempatkan untuk istirahat sejenak, makan makanan ringan yang dibawa, minum, dan berfoto bersama. Setelah beristirahat cukup lama, kami pun melanjutkan perjalanan, Telaga Biru – Rawa Denok. Jalan di Rawa Denok berupa jembatan yang cukup panjang, disusun dari material beton bertulang yang dibuat sedemikian rupa untuk memudahkan para wisatawan. Selepas jembatan Rawa Denok, jalan yang akan dilewati semakin terjal, memutar, dan menguras tenaga.

Setelah berjalan sekian lama, sampailah kami di pos Air Panas. Di pos Air Panas ini, kami harus melewati aliran air panas dari puncak Gunung Gede. Trek yang akan dilalui sangatlah berbahaya. Bebatuan yang basah karena cipratan air membuat batu tersebut jadi licin. Bagian kanan trek yang ternyata jurang, jalan yang sempit, hanya dengan berpegangan pada tali yang sudah ada di trek tersebut. Kami harus ekstra hati-hati, apalagi bagi pendaki yang tidak menggunakan sepatu. Karena air disana benar-benar panas. Selepas pos Air panas tadi, kami melewati Shelter tempat peristirahatan yang sering digunakan para pendaki untuk berendam kaki. Sayangnya, rombongan kami tidak berendam air panas disana karena, terlalu banyak orang yang sedang dan ingin berendam kaki disana.

Pos Kandang Batu adalah tujuan selanjutnya. Pos kandang Batu ini merupakan wilayah yang cukup luas, dan mampu menampung beberapa tenda bagi pendaki yang memang ingin berkemah disana. Tapi, kenapa pos ini bernama Kandang Batu? Apa karena disini banyak bebatuan? Atau ada batu yang diberi kandang? Entahlah...

Sebenarnya sepanjang perjalanan tadi, penyakit maag saya sudah kambuh. Karena, dari hari kemarin belum ada makanan yang masuk dalam perut saya. Alhamdulillah, beberapa orang dari rombongan kami ini mau berbagi makanan nya ke saya. Dimulai dari Mas Rizal, memberi saya beng-beng. Coklat, yang saya ketahui bisa menambah tenaga dalam kondisi apapun. Mbak April, yang memberi saya Oatmilk untuk sekedar mengisi lambung. Kemudian Mas Galih, memberi saya obat (lupa nama obatnya). Terimakasih..............

Sudah cukup lama kami beristirahat di pos Kandang Batu, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Kandang Badak. Tempat untuk kami mendirikan tenda dan beristirahat disana. Waktu yang dibutuhkan dari Kandang Batu – Kandang Badak berkisar 1 – 1,5 jam. Sesampainya di Kandang Badak, ternyata sudah ada rombongan kami yang sampai disana lebih dulu. Waktu menunjukkan pukul 12 kurang sekian menit. Beristirahatlah kami disana sambil mengumpulkan tenaga untuk berjalan kembali menuju Puncak Gunung Gede. Berasa istirahat belum cukup, tapi waktu telah menunjukkan pukul 12.50 WIB yang berarti kami harus mulai berjalan kembali. Hanya beberapa orang saja yang pergi ke Puncak Gunung Gede ini, kenapa? Karena 3 orang dari rombongan ini memilih untuk tinggal di Kandang Badak, Siapa saja? Sebut saja mereka Mas Galih, Mas Nafian, dan Ridwan.


Perjalanan Kandang Badak – Puncak Gunung Gede membutuhkan waktu sekitar 2 jam, itupun jika tidak membawa gembolan besar dipunggungnya. Trek menuju Puncak Gunung Gede terus menanjak, jarang ada bonus, bahkan bisa dibilang tidak ada. Saya sendiri pun merasa kesulitan dan kelelahan melewati jalur ini, terutama di daerah tanjakan setan. Apa? Tanjakan Setan? Kenapa namanya Tanjakan Setan? Apa karena memang di jalur ini, trek menanjak dan banyak Setan disana? Ternyata tidak, itu hanya sebuah nama yang berarti tanjakan yang harus dilewati SANGAT EKSTRIM. Hanya berpegangan pada tali yang sudah ada di trek, kami harus melewati trek ini. Yang terbesit di otak saya adalah “naiknya bisa, lah turunnya gimana?” hanya itu yang ada di otak saya. Dua jam sudah kami berjalan menyusuri jalur ini, populasi pepohonan berkurang, kemiringan tanah mulai landai, munculah kata “Yes, PUNCAK” di otak. Memperhatikan daerah sekitar, belum saya temukan plank bertuliskan PUNCAK GEDE. Dan ternyata memang benar, itu belum puncak, kami masih harus menyusuri jalan penuh pasir kerikil untuk bisa sampai puncak. Di tengah jalur pasir kerikil, memang puncak sudah terlihat, tapi masih jauh. Sempat saya bilang “Udah ah, nyerah. Udah sampai sini aja. Tapi tinggal dikit lagi, paling juga 5 menit, Tapi udah ga kuat”. Tiba-tiba munculah seorang pria yang membuat saya takut, dan saya pun berjalan terus, walaupun tetap saja kesusul. Mungkin tinggal semenit lagi sampai puncak, saya bertemu Mbak April yang baru saja dari puncak. Saya pun bertanya ke Mbak April “Masih jauh ga Mbak puncaknya?”. Alhamdulillah, baik hati nya Mbak April mengajak saya ke puncak bersama. Terimakasih Mbak April

Akhirnya, 19 Desember 2015 pukul 15.40 WIB. Saya sampai di PUNCAK GUNUNG GEDE 2958 mdpl.

Cerita berlanjut ke Tadabbur Alam: Gede-Pangrango (Part II)


Rombongan minus Mas Nafian di Jembatan Rawa Denok
Istirahat di Kandang Batu
Mas Nafian dan Mas Rizal di Kandang Badak
Sampai di Kandang Badak
Sampah berserakan yang ada dijalur

Mas Yaqin dan Mas Bahrul di Puncak Gede

Mas Fattah di Puncak Gede

Kiri ke Kanan: Mas Fattah, Mas Yaqin, Mas Bahrul, Erna, Dwi, Mbak April
Di Puncak Gunung Gede

Mas Galih dengan gembolan besanya 
Air Terjun Cibeureum
Pos Air Panas (1)
Pos Air Panas (2)

Istirahat di Kandang Badak

Iseng-iseng berhadiah

menuju puncak Gede (1)

 menuju Puncak Gede (2)

Jalur menuju Puncak Gede (3)

Jalur menuju Puncak Gede (4)

Saya dan Mbak April di Puncak Gede

Kehidupan di dalam tenda

Tanjakan Setan (1)


Tanjakan Setan (2)



Sumber foto: Dwi, Mbak April, Ridwan, dan Dokumentasi pribadi.



-find einige schönen Platz zu verloren-