Minggu, 29 Juni 2014

Pendakian Gunung Guntur 2249 mdpl



     Dengan penatnya Kota Bandung dari hari Senin sampai Jumat, tibalah saatnya saya dan teman-teman meninggalkan Ibukota Jawa Barat ini, hanya sekedar untuk me-refresh otak dengan segala kesibukan yang ada. Tujuan kami memang tidak terlalu jauh dari Kota Bandung. Kota Garut, itu tujuan kami. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai Kota yang satu ini, hanya membutuhkan waktu 2 – 3 jam kita bisa sampai di Kota penghasil Dodol itu. Dan lagi tujuan kami adalah ciptaan-Nya yang menjulang tinggi ke langit (baca: gunung) yang berada di Kota tersebut. Gunung Guntur, yang menurut saya gunung yang namanya tidak se-famous Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray tetangganya.

          Menurut sumber (wikipedia) Gunung Guntur adalah sebuah gunung yang terdapat di wilayah barat Garut, Jawa Barat, dengan ketinggian 2.249 mdpl. Memang tidak terlalu tinggi, sehingga jarang dilirik para pendaki yang sudah expert dalam hal ini.

           The story starts here,,

    Bermula dari perbincangan di Group Whatsapp yang dibentuk jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Perbincangan mengenai perlengkapan logistik kelompok, makanan kelompok, siapa yang menjadi PJ 2 hal tadi, sampai teknis sebelum pergi menuju tempat tujuan pun dilakukan di Group itu. 

          Tibalah saat dimana kita berkumpul dengan satu tujuan di terminal Cicaheum pukul 06.00 WIB walaupun pada kenyataannya saya pun terlambat datang karena telat bangun. Skip. Setelah semua kelompok lengkap, mulailah seseorang mencari kendaraan yang akan membawa kita (baca: 32 orang ke SPBU Tanjung (tempat berhenti untuk menuju Gunung Guntur). Skip. Tibalah kita di SPBU Tanjung dengan hati riang, semua anggota kelompok dianjurkan untuk mengisi perbekalan untuk makan siang nanti. Dilanjutkan dengan ­­melengkapi perlengkapan dan repacking. Mengenai transport yang digunakan untuk menuju basecamp dan titik awal pendakian biasanya pendaki lain menggunakan truk pasir yang menuju tambang pasir sekaligus titik awal pendakian.

Tambang pasir


                 
Suasana di truk


Truk yang dinaiki
          Diawal pendakian, jalur yang dilalui berupa hutan dengan kemiringan yang tidak terlalu tajam. Alhamdulillah, hutan tidak akan membuat kulit kita terlalu terbakar karena pada saat itu matahari sangat senang memberikan sinarnya ke bumi. Dengan terus berjalan ditemani suara gemercik air, yup... Tujuan selanjutnya adalah Curug Citiis.  Curug Citiis yang merupakan sumber air terakhir yang bisa dimanfaatkan sebelum menuju puncak Gunung Guntur ini. Seperti biasa, saya merupakan anggota yang paling lambat berjalan dan paling lama sampai tujuan. Akhirnya saya dan beberapa teman sampai di Curug Citiis. Di Curug Citiis 32 orang itu melakukan halnya masing-masing. Mulai dari makan bekal yang dibeli di daerah SPBU Tanjung tadi,  melaksanakan kewajiban selaku umat Muslim, mengambil beberapa foto sebagai oleh-oleh, ataupun hanya sekedar meluruskan badan. Cukup lama kami ditempat ini, karena suasana yang sangat sejuk dan nyaman. Tapi tidak mungkin kami hanya berdiam ditempat ini, karena bukan ini tujuan utama kami. Dengan pertarungan sengit antara hasrat untuk tetap tempat sejuk ini VS tujuan utama perjalanan ini, akhirnya diputuskan untuk segera mengakhiri segalanya. JENG JENG............

Saat istirahat di Curug Citiis
 
Jalur yang akan dilewati setelah Curug Citiis
            Kami terus berjalan hingga akhirnya kami keluar dari hutan yang sejuk dan menemui Padang Savana yang luas dari tempat itu kami bisa melihat puncak I tempat tujuan utama kami untuk mendirikan tenda makin dekat (kata-kata penghibur). Padang Savana tidak terlalu gersang, karena masih banyak rerumputan dan ilalang menemani perjalanan kami. Terus dan terus berjalan, walau ada waktu dimana kita berhenti sejenak hanya untuk menghilangkan rasa haus dan menghela nafas. Medan yang dihadapi belum terlalu terjal, termasuk landai malah menurut saya. Saya berjalan ditemani oleh 3 orang pria “sejati gagah berani” dengan gondolan di punggungnya masing-masing yang sering disebut “KULKAS”, ada yang membawa lontong 78 lontong, membawa tenda, dan membawa logistik lainnya. 

Padang Savana
Pria "Sejati Gagah Berani" pembawa 78 Lontong

     Semakin kita jauh meninggalkan hutan, medan yang kami hadapi semakin terjal dengan kemiringan 45-70, dengan tambahan aksen pasir dan kerikil pada jalurnya juga rerumputan yang makin menghilang membuat kami ber-empat kesulitan mendaki. Maju 1 langkah mundur 2-3 langkah, belum lagi pasir dan kerikil yang seenaknya “nyempil” diantara sandal dan sepatu. Hanya berpegangan pada batu besar, akar, dahan pohon, bahkan rumput yang sesekali membuat kami beberapa kali terpeleset karena posisi mereka yang tidak “fix” menancap pada tanah. Dilanjutkan dengan hari yang semakin sore dan gelap, membuat kita ber-empat mengambil headlamp masing-masing. Penerangan yang minim, disambung dengan kabut yang terus turun. Hingga kami ber-empat terdiam “stuck” di posisi yang sama sekali tidak enak, dengan kontur tanah yang miring, permukaan berpasir dan berkerikil, vegetasi pun minim, hanya ada 1 pohon besar nan kokoh berdiam diri ditengah jalur. Stuck ditempat tersebut hampir 2 jam atau mungkin lebih, dengan harapan rombongan yang sudah sampai, merelakan hatinya untuk menjemput kami ber-empat yang dalam kondisi sangat kelelahan tidak bisa pergi kemanapun, ditambah dengan ada seorang wanita muda (baca: saya) yang penyakitnya mulai kambuh. Sesekali ditanya oleh salah satu pria "AMAN ?" ada yang menjawab "AMAN", "STABIL" dan seorang pria menjawab "AKU PO PO" seketika kami semua tertawa, menghilangkan lelah sedikit lah. Akhirnya 2 (dua) orang pria berparas tampan bagai pahlawan berkuda putih menjemput kami ber-empat.  yang sudah ditelfon (Alhamdulillah signal tertangkap) sebelumnya.

             Berjalan lagi, dan hujan pun turun dengan senangnya. Jika kami semua berhenti, kami semua akan basah kuyup karena memang TIDAK ADA SAMA SEKALI tempat untuk berteduh. Jadi kami terus berjalan, walaupun ada sesekali kami berhenti untuk menghela nafas dan minum. Hanya sekitar 1 jam dari tepat kami terjebak, akhirnya kami sampai di PUNCAK 1, tempat tenda kami semua berkumpul. Saya yang dalam kondisi sangat lemas, digiring menuju tenda untuk menghangatkan diri, saya lupa persisnya itu tenda kelompok berapa. Datang seorang wanita baik hati nan ayu, membawakan saya energen hangat, juga ada seorang wanita cantik didalam tenda yang menyuapi saya makan. Kondisi mulai pulih, saya pergi keluar ke tenda kelompok saya dan pergi tidur, karena harus mempersiapkan badan untuk naik ke puncak 2 esok pagi. 

           Jam 04.00 saya bangun untuk persiapan menuju puncak 2, sekitar 1 jam perjalanan kami sudah berada di puncak 2. Menunggu sunrise, berfoto di tugu titik GPS Gunung Guntur, ibadah 2 rakaat dan lain sebagainya. Setelah puas dengan pemandangan yang ada, tim yang menuju ke puncak 2 jadi terbagi, ada yang turun lagi ke Puncak 1 dan ada yang melanjutkan ke puncak 3. Saya termasuk yang bingung, kondisi saya yang masih kurang fit untuk melanjutkan ke Puncak 3, tapi ada yang “ngomporin” dengan “embel-embel” diatas ada plang bertuliskan “Gn.Guntur 2249 mdpl” juga ada tiang bendera Merah Putih. Kondisi lingkungan pada saat itu juga berkabut, membuat saya lebih memilih turun ke Puncak 1, dan tetiba kabut menghilang, dan suasan cerah, saya berubah fikiran. Jadilah saya ikut naik ke puncak 3. Hanya sekitar 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Puncak 3. Berfoto ria, selesai dan turun kembali. SKIP.. 

Foto di puncak 3

Sunrise di Puncak 2


Ini di "embel-embel" di Puncak 3


      Setelah sampai di Puncak 1, kami makan untuk menambah energi dan persiapan pulang. Persiapan selesai, kami semua berfoto tim dulu, dan turun. Seharusnya perjalanan pulang lebih singkat dari pergi, memang iya. Tapi pada kenyataannya justru lebih lama menurut saya, karena kendala medan yang berpasir membuat saya harus “sosorodotan” di pasir bercampur kerikil menghasilkan paha saya yang memar dan telapak tangan luka-luka, jatuh, terpeleset daaannnn lain lain. Sampai di Curug Citiis saya dan beberapa teman istirahat disana, juga melaksanakan ibadah selaku umat Muslim. 

           Setelah selesai, kami semua turun lagi sampai Penambangan pasir. Harus diketahui bahwa truk pasir hanya ada sampai jam 5 sore, malah terkadang kurang dari jam 5 mereka sudah tidak ada. Sebenarnya ada sih, tapi itu truk pasir yang akan mengangkut pasir lagi, bahaya jika kita memaksakan untuk tetap naik truk yang bermuatan, bisa-bisa jatuh, dan kepala mencium batu melihat kondisi jalan yang sangat aduhay. Akhirnya kami putuskan untuk berjalan kaki sampai SPBU Tanjung. Saat malam datang menjelang, kami masih tetap setia berjalan pada medan yang sangat aduhay itu. Tiba-tiba kami (mungkin saya) disilaukan oleh cahaya berwarna kuning yang ternyata itu adalah mobil L300 yang merupakan pesanan orang lain untuk menjemput rombongan dari Jakarta yang berjumlah 10 orang. Negosiasi sengit dilakukan dengan tawaran sang supir mengantarkan kami sampai SPBU Tanjung dan kemudian kembali lagi untuk menjemput yang seharusnya dijemput. Tapi pada awalnya sangat disayangkan sang supir lebih memilih untuk menunggu rombongan Jakarta itu. Kami berjalan lagi, tapi tetiba si Mobil turun dan bilang bersedia mengantar kami menuju SPBU Tanjung dengan tawaran tarif 2x lipat dari yang ditawarkan sebelumnya. DEAL, dan akhirnya kami menaiki si Mobil. Ditengah perjalanan kami juga bertemu dengan rombongan kami yang lain, yang ternyata juga baru menaiki truk yang lewat. Sampai di SPBU Tanjung, banyak yang dilakukan. Mulai dari makan, ibadah, setor (baca: ke WC), dan lain lain. Hingga akhirnya beberapa dari kelompok kami “menyarter” kendaraan (baca:Elp) untuk pulang ke Bandung. Kami semua sampai di Bandung (Cicaheum) pukul 23.30 WIB. 
 
Menuju perjalanan pulang, di Tambang Pasir

Pengalaman yang menyenangkan bisa mendaki gunung bersama Kelompok ini. Jangan pernah menyerah untuk selalu berjalan menanjak, karena setiap ada tanjakan pasti ada turunan. (Kata-kata yang saya kutip dari Mas Hariyanto). Dan selagi kita berjalan bersama, cape dan lelah akan hilang seiring dengan tawa yang tercipta di perjalanan tersebut.

Keluarga besar Trip to Mt. Thunder

Tim III trip to Mt.Thunder
Photograph by : Teh restu, Mas Hendro, Penulis