Dengan penatnya Kota Bandung dari hari Senin sampai Jumat,
tibalah saatnya saya dan teman-teman meninggalkan Ibukota Jawa Barat ini, hanya
sekedar untuk me-refresh otak dengan
segala kesibukan yang ada. Tujuan kami memang tidak terlalu jauh dari Kota
Bandung. Kota Garut, itu tujuan kami. Tidak membutuhkan waktu lama untuk
mencapai Kota yang satu ini, hanya membutuhkan waktu 2 – 3 jam kita bisa sampai di Kota penghasil
Dodol itu. Dan lagi tujuan kami adalah ciptaan-Nya yang menjulang tinggi ke langit
(baca: gunung) yang berada di Kota tersebut. Gunung Guntur, yang menurut saya
gunung yang namanya tidak se-famous Gunung
Papandayan dan Gunung Cikuray tetangganya.
Menurut sumber (wikipedia) Gunung
Guntur adalah sebuah gunung yang terdapat di wilayah barat Garut, Jawa
Barat, dengan ketinggian 2.249 mdpl. Memang tidak
terlalu tinggi, sehingga jarang dilirik para pendaki yang sudah expert dalam hal ini.
The story starts here,,
Bermula
dari perbincangan di Group Whatsapp yang dibentuk jauh-jauh hari
sebelum keberangkatan. Perbincangan
mengenai perlengkapan logistik kelompok, makanan kelompok, siapa yang menjadi
PJ 2 hal tadi, sampai teknis sebelum pergi menuju tempat tujuan pun dilakukan
di Group itu.
Tibalah saat dimana kita
berkumpul dengan satu tujuan di terminal Cicaheum pukul 06.00 WIB walaupun pada
kenyataannya saya pun terlambat datang karena telat bangun. Skip. Setelah semua kelompok lengkap,
mulailah seseorang mencari kendaraan yang akan membawa kita (baca: 32 orang ke
SPBU Tanjung (tempat berhenti untuk menuju Gunung Guntur). Skip. Tibalah kita di SPBU Tanjung dengan hati riang, semua anggota
kelompok dianjurkan untuk mengisi perbekalan untuk makan siang nanti. Dilanjutkan
dengan melengkapi perlengkapan dan repacking.
Mengenai transport yang digunakan untuk menuju basecamp dan titik awal pendakian biasanya pendaki lain menggunakan
truk pasir yang menuju tambang pasir sekaligus titik awal pendakian.
| Tambang pasir |
| Truk yang dinaiki |
Diawal pendakian, jalur yang
dilalui berupa hutan dengan kemiringan yang tidak terlalu tajam. Alhamdulillah,
hutan tidak akan membuat kulit kita terlalu terbakar karena pada saat itu
matahari sangat senang memberikan sinarnya ke bumi. Dengan terus berjalan
ditemani suara gemercik air, yup... Tujuan selanjutnya adalah Curug Citiis. Curug Citiis yang merupakan sumber air
terakhir yang bisa dimanfaatkan sebelum menuju puncak Gunung Guntur ini.
Seperti biasa, saya merupakan anggota yang paling lambat berjalan dan paling lama
sampai tujuan. Akhirnya saya dan beberapa teman sampai di Curug Citiis. Di
Curug Citiis 32 orang itu melakukan halnya masing-masing. Mulai dari makan
bekal yang dibeli di daerah SPBU Tanjung tadi,
melaksanakan kewajiban selaku umat Muslim, mengambil beberapa foto
sebagai oleh-oleh, ataupun hanya sekedar meluruskan badan. Cukup lama kami
ditempat ini, karena suasana yang sangat sejuk dan nyaman. Tapi tidak mungkin
kami hanya berdiam ditempat ini, karena bukan ini tujuan utama kami. Dengan
pertarungan sengit antara hasrat untuk tetap tempat sejuk ini VS tujuan utama
perjalanan ini, akhirnya diputuskan untuk segera mengakhiri segalanya. JENG
JENG............
| Saat istirahat di Curug Citiis |
Kami terus berjalan hingga
akhirnya kami keluar dari hutan yang sejuk dan menemui Padang Savana yang luas
dari tempat itu kami bisa melihat puncak
I tempat tujuan utama kami untuk mendirikan tenda makin dekat (kata-kata
penghibur). Padang Savana tidak terlalu gersang, karena masih banyak
rerumputan dan ilalang menemani perjalanan kami. Terus dan terus berjalan,
walau ada waktu dimana kita berhenti sejenak hanya untuk menghilangkan rasa
haus dan menghela nafas. Medan yang dihadapi belum terlalu terjal, termasuk
landai malah menurut saya. Saya berjalan ditemani oleh 3 orang pria “sejati
gagah berani” dengan gondolan di punggungnya masing-masing yang sering disebut “KULKAS”,
ada yang membawa lontong 78 lontong, membawa tenda, dan membawa logistik
lainnya.
| Padang Savana |
| Pria "Sejati Gagah Berani" pembawa 78 Lontong |
Semakin kita jauh meninggalkan
hutan, medan yang kami hadapi semakin terjal dengan kemiringan 45-70ᴼ,
dengan tambahan aksen pasir dan kerikil pada jalurnya juga rerumputan yang
makin menghilang membuat kami ber-empat kesulitan mendaki. Maju 1 langkah
mundur 2-3 langkah, belum lagi pasir dan kerikil yang seenaknya “nyempil”
diantara sandal dan sepatu. Hanya berpegangan pada batu besar, akar, dahan
pohon, bahkan rumput yang sesekali membuat kami beberapa kali terpeleset karena
posisi mereka yang tidak “fix” menancap
pada tanah. Dilanjutkan dengan hari yang semakin sore dan gelap, membuat kita
ber-empat mengambil headlamp masing-masing.
Penerangan yang minim, disambung dengan kabut yang terus turun. Hingga kami
ber-empat terdiam “stuck” di posisi
yang sama sekali tidak enak, dengan kontur tanah yang miring, permukaan
berpasir dan berkerikil, vegetasi pun minim, hanya ada 1 pohon besar nan kokoh
berdiam diri ditengah jalur. Stuck ditempat
tersebut hampir 2 jam atau mungkin lebih, dengan harapan rombongan yang sudah
sampai, merelakan hatinya untuk menjemput kami ber-empat yang dalam kondisi
sangat kelelahan tidak bisa pergi kemanapun, ditambah dengan ada seorang wanita
muda (baca: saya) yang penyakitnya mulai kambuh. Sesekali ditanya oleh salah satu pria "AMAN ?" ada yang menjawab "AMAN", "STABIL" dan seorang pria menjawab "AKU PO PO" seketika kami semua tertawa, menghilangkan lelah sedikit lah. Akhirnya 2 (dua) orang pria
berparas tampan bagai pahlawan berkuda putih menjemput kami ber-empat. yang sudah ditelfon
(Alhamdulillah signal tertangkap) sebelumnya.
Berjalan lagi, dan hujan pun
turun dengan senangnya. Jika kami semua berhenti, kami semua akan basah kuyup
karena memang TIDAK ADA SAMA SEKALI tempat untuk berteduh. Jadi kami terus
berjalan, walaupun ada sesekali kami berhenti untuk menghela nafas dan minum.
Hanya sekitar 1 jam dari tepat kami terjebak, akhirnya kami sampai di PUNCAK 1,
tempat tenda kami semua berkumpul. Saya yang dalam kondisi sangat lemas,
digiring menuju tenda untuk menghangatkan diri, saya lupa persisnya itu tenda
kelompok berapa. Datang seorang wanita baik hati nan ayu, membawakan saya energen
hangat, juga ada seorang wanita cantik didalam tenda yang menyuapi saya makan.
Kondisi mulai pulih, saya pergi keluar ke tenda kelompok saya dan pergi tidur,
karena harus mempersiapkan badan untuk naik ke puncak 2 esok pagi.
Jam 04.00 saya bangun untuk
persiapan menuju puncak 2, sekitar 1 jam perjalanan kami sudah berada di puncak
2. Menunggu sunrise, berfoto di tugu titik GPS Gunung Guntur, ibadah 2 rakaat
dan lain sebagainya. Setelah puas dengan pemandangan yang ada, tim yang menuju
ke puncak 2 jadi terbagi, ada yang turun lagi ke Puncak 1 dan ada yang
melanjutkan ke puncak 3. Saya termasuk yang bingung, kondisi saya yang masih
kurang fit untuk melanjutkan ke Puncak 3, tapi ada yang “ngomporin” dengan “embel-embel”
diatas ada plang bertuliskan “Gn.Guntur 2249 mdpl” juga ada tiang bendera Merah
Putih. Kondisi lingkungan pada saat itu juga berkabut, membuat saya lebih
memilih turun ke Puncak 1, dan tetiba kabut menghilang, dan suasan cerah, saya
berubah fikiran. Jadilah saya ikut naik ke puncak 3. Hanya sekitar 30 menit
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Puncak 3. Berfoto ria, selesai dan turun
kembali. SKIP..
| Foto di puncak 3 |
| Sunrise di Puncak 2 |
| Ini di "embel-embel" di Puncak 3 |
Setelah sampai di Puncak 1, kami makan untuk menambah energi
dan persiapan pulang. Persiapan selesai, kami semua berfoto tim dulu, dan
turun. Seharusnya perjalanan pulang lebih singkat dari pergi, memang iya. Tapi pada
kenyataannya justru lebih lama menurut saya, karena kendala medan yang berpasir
membuat saya harus “sosorodotan” di pasir bercampur kerikil menghasilkan paha
saya yang memar dan telapak tangan luka-luka, jatuh, terpeleset daaannnn lain
lain. Sampai di Curug Citiis saya dan beberapa teman istirahat disana, juga
melaksanakan ibadah selaku umat Muslim.
Pengalaman yang menyenangkan bisa mendaki gunung bersama Kelompok
ini. Jangan pernah menyerah untuk selalu berjalan menanjak, karena setiap ada
tanjakan pasti ada turunan. (Kata-kata yang saya kutip dari Mas Hariyanto). Dan
selagi kita berjalan bersama, cape dan lelah akan hilang seiring dengan tawa
yang tercipta di perjalanan tersebut.
![]() |
| Keluarga besar Trip to Mt. Thunder |
![]() |
| Tim III trip to Mt.Thunder |
Photograph by : Teh restu, Mas Hendro, Penulis



Tidak ada komentar:
Posting Komentar