Senin, 11 Januari 2016

Tadabbur Alam: Gede-Pangrango (Part II)


 “Akhirnya, 19 Desember 2015 pukul 15.40 WIB. Saya sampai di PUNCAK GUNUNG GEDE 2958 mdpl.”

“Yeaaayyy, Ich habe es gemacht!” kata yang muncul sekilas di otak saya. Kenapa tiba-tiba muncul? Karena, seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya. Terbesit di otak saya, bahwa saya mau nyerah “udah sampe sini aja, udah ga kuat”, tapi itu semua hilang seketika saat melihat pendaki lain yang menuju puncak dengan membawa gembolan besar di punggungnya yang mungkin beratnya lebih besar dari berat badannya sendiri masih tetap berjalan walaupun pelan-pelan. Sedangkan saya tidak membawa beban apapun, masa iya kalah.

Setelah puas mengambil beberapa gambar di Puncak Gunung Gede, saya dan Mbak April pergi meninggalkan Puncak Gunung Gede. Sayangnya view yang didapatkan tidak seindah referensi yang didapat dari internet karena kabut mulai turun. 

Kurang lebih pukul 16.00 WIB Mbak April, saya dan Mas Fattah mulai menuruni gunung menuju Kandang Badak, tempat dimana rombongan kami mendirikan tenda. Tiba-tiba pertanyaan muncul di otak saya tentang “Tanjakan Setan” tadi. Tanjakan dengan kemiringan 60-70 derajat, didominasi bebatuan besar dan tinggi, hanya berpegang pada beberapa tali. Naiknya bisa, turunnya gimana? Bagaimana cara saya melewatinya? Apa tidak ada jalan lain? Kalo tidak hati-hati, terpeleset, jatuh, tamatlah sudah. Kenapa? Karena pada dasarnya saat mendaki gunung, manusia bergerak ke atas atau melawan arah gravitasi. Sedangkan saat menuruni gunung, manusia bergerak kebawah atau sesuai arah gravitasi. Itulah yang membuat resiko saat menuruni gunung menjadi lebih besar. Pada akhirnya Mbak April, saya, dan Mas Fattah menuruni Tanjakan itu dengan cara berpindah dari batu satu ke batu yang lain sambil duduk, dan berpegangan pada tali yang sudah ada. Setelah melewati tanjakan setan tadi, kami melanjutkan perjalanan menuju Kandang Badak. Dari Puncak Gunung Gede – Kandang badak membutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam. Bagi pendaki yang sudah expert atau berbadan kecil tapi kuat seperti (Erna dan Dwi) hanya membutuhkan waktu 1 jam saja untuk menuruni gunung ini. Pukul 18.00 WIB saya, Mbak April, dan Mas Fattah sampai di Kandang Badak lalu menuju tenda rombongan kami. Masuk ke tenda, menggelar matras, mengatur posisi tidur, istirahat, sholat, dan lain sebagainya. 

Alhamdulillah cuaca hari itu sangat bersahabat, saat mendaki (basecamp-kandang badak – puncak gunung gede) tidak turun hujan, saat turun (puncak gunung gede-kandang badak) pun tidak turun hujan, dan malam tidak terlalu dingin. Menurut saya, pendakian gunung kali ini, termasuk pendakian yang paling enak. Malam pun datang, suasana di luar tenda semakin hening. Hanya tenda kami yang masih cukup riweuh. Mulai dari yang masak makanan, masak air, main kartu uno, dan lain sebagainya. Dan seperti biasa, saat di gunung saya termasuk orang yang sulit untuk tidur. Tidur, bangun lagi, tidur lagi, bangun lagi, begitu terus sampai pagi menjelang.  

Minggu, 20 Desember 2015 hari baru dimulai.

Alarm handphone berbunyi, sang fajar mulai menampakan sinarnya dari ufuk timur, dan dari luar tenda terdengar suara “Bangun oy, pangrango yuk”. Bersiap mendaki lagi menuju Puncak Gunung Pangrango, walau sebenarnya istirahat nya belum cukup. Akhirnya kami, 11 orang berangkat menuju Puncak Pangrango. Jalur menuju Puncak Gunung Pangrango ini kurang diminati banyak orang. Karena jalurnya yang lebih panjang, lebih terjal walaupun banyak “bonus”, banyak sekali pohon tumbang yang membuat para pendaki lebih capek karena para pendaki harus loncat, ngolong, apalagi bagi pendaki yang membawa gembolan besar dipunggungnya harus mengeluarkan tenaga extra untuk melewati jalur ini. Seperti biasa, posisi saya selalu berada di belakang rombongan bersama sweeper terbaik (Ridwan dan Mas Galih). Cukup lama sudah kami berjalan, tiba-tiba TURUN HUJAN cukup deras. Membuat waktu perjalanan semakin lama, karena kami harus ekstra hati-hati melewati jalur yang licin. 

Semakin ke atas, jalur yang dilewati semakin sulit, semakin terjal, semakin sempit karena harus melewati jalur air, semakin kelelahan, nafas semakin pendek, dan semakin kedinginan karena basah kuyup kehujanan. Karena hujan cukup deras, 2 orang dari rombongan kami terpaksa harus turun kembali untuk mengantarkan jas hujan. Saya menerima apa yang diberikan, jas hujan yang entah milik siapa dan kembali berjalan menyusuri jalur. Setelah lama berjalan, sampailah kami di Puncak Gunung Pangrango 3019 mdpl Puncak tertinggi kedua di Jawa Barat. Puncak Gunung Pangrango bukanlah tempat terindah, karena puncak pangrango hanyalah sedikit lahan datar yang tertutup banyak pepohonan. Walau sudah sangat lelah, muka yang tidak tau lagi seperti apa bentuknya. Tetap saja, harus ada momen yang terabadikan. Mengambil sedikit foto disana, dan kembali berjalan menuju Lembah Mandalawangi. 

Konon katanya, Lembah Mandalawangi dahulunya adalah sebuah gunung api yang sangat besar dan meletus dengan dahsyatnya, lavanya mengalir ke segala arah, batuannya menyebar sampai ke kaki Gunung Salak dan Kota Bogor. Saat ini Gunung Mandalawangi sudah tidak ada lagi, hanya meninggalkan bekas kawah Mandalawangi atau yang dikenal sebagai Lembah Mandalawangi, dan anak gunungnya yang dikenal adalah Gunung Pangrango.

Sesampainya kami di Lembah Mandalawangi beberapa dari rombongan kami sudah ada yang duduk manis dibawah spanduk dan beberapa ponco. Spanduk yang tadinya digunakan untuk alas duduk, malah dijadikan untuk melindungi kepala dan badan dari hujan. Iya, hujan masih setia menemani kami walaupun hanya rintik-rintik kecil ditambah kabut yang enggan pergi tetap membuat kami menggigil kedinginan. Berbekal bahan makanan yang telah dibawa, beberapa orang dari rombongan kami memasak menu makan siang disana. Makan siang kali ini termasuk menu yang enak. Kenapa? Karena menu kali ini jauh dari per-MIE-an. Biasanya menu makanan kebanyakan orang yang mendaki gunung tidak jauh dari MIE INSTAN, karena tidak ingin ambil pusing soal makanan, yang penting perut terisi. Skip~~

Makanan sudah habis, bercanda-gurau pun kami lakukan cukup lama tapi matahari tak kunjung memperlihatkan sinarnya. Padahal kami sudah sangat kedinginan, semua jaket basah, baju pun basah. Berpikir untuk beranjak dari bawah spanduk menuju ke padang edelweis, mengambil beberapa foto dan menghilangkan rasa dingin yang sudah menusuk tulang. Saat cuaca cerah, lembah mandalawangi ini menjadi salah satu tempat yang digemari pendaki untuk berfoto-ria. Sayangnya, saat kami kesana, hanya putihnya kabut yang kami lihat. Jarak pandang hanya sekitar 10 meter, angin berhembus dengan kencangnya. Tapi kami tetap berfoto-ria disana, mulai dari selfie, foto berpelukan, sampai foto-foto ala siluet. 

Hujan tak kunjung berhenti, hanya intensitasnya saja yang berkurang. Kami putuskan untuk segera turun menuju kandang badak. Kembali menyusuri jalur itu, jalur yang dipenuhi pepohonan yang tumbang, loncat sana, ngolong sini. Berjalan terus, ditemani hujan, senda gurau, dan alunan suara “pelangi di mata mu” dari Erna (lupa siapa yang request). Tanpa disadari kami berjalan sudah cukup lama tapi tak kunjung sampai di kandang badak, dan tiba-tiba HUJAN TURUN dengan derasnya. Tanpa mengenakan jas hujan perjalanan terus dilanjutkan, karena tempat tujuan ternyata sudah dekat. Mungkin waktu itu menunjukan pukul 5 atau 6 sore kami sampai di kandang badak, langsung menuju tenda. Tenda rombongan kami sebenarnya ada 3, tapi pagi tadi sebelum menuju puncak gunung pangrango salah satu tenda itu sudah dilipat dan itu membuat 3 orang dari rombongan kami (Ridwan, Mas Galih, Mas Yaqin) harus menunggu diluar tenda cukup lama hanya dengan dinaungi payung dan dibekali biskuit untuk mengisi perut. 

Sambil ditemani suara rintik hujan kami mulai packing kembali. Memasukkan barang-barang ke dalam carrier untuk siap-siap pulang menuju basecamp. Aaahhhhh, masih lelah rasanya badan ini. Tapi tetap harus pulang. Andai saja bisa seperti Do Min Joon (pemeran drama korea yang bisa teleportasi). Setelah semua siap dengan gembolan besarnya masing-masing dan hujan pun sudah berhenti, sekitar pukul 8 malam kami meninggalkan kandang badak menuju basecamp. Perjalanan malam hari, turun gunung, iya, kami harus ekstra hati-hati. Selalu memeriksa keberadaan teman didepan atau dibelakang agar tidak terpisah dari rombongan. Jalur yang kami lewati sama dengan saat kami pergi. Kandang Badak – Pos Kandang Batu – Pos Air Panas – Rawa Denok – Telaga Biru – Basecamp. 

Perjalanan Kandang Badak – Kandang Batu – Pos Air Panas lancar jaya walau ada sedikit gangguan. Untuk melewati pos air panas pada malam hari kami harus ekstra hati-hati, selain karena penerangan yang minim juga air disana menjadi lebih panas dibandingkan saat siang hari. Jika tidak hati-hati, kaki bisa terkena air panas, licin, terpeleset, masuk jurang, tamatlah sudah. Selepas pos air panas kami berjalan lagi menuju rawa denok. Perjalanan menuju rawa denok pun lancar jaya. 

Sesampainya di rawa denok, kami terus melanjutkan perjalanan menuju telaga biru. Melewati jembatan di rawa denok pada saat itu (malam hari) terasa jadi lebih lama, entah karena memang fisik saya yang sudah lelah atau ada “unsur” lain dibalik itu semua? wallahu’alam bishshawab. Kami tetap berjalan tanpa ada rasa curiga. Seingat saya, jarak dari rawa denok ke telaga biru itu tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar 1 atau 1,5 jam lagi sudah bisa sampai basecamp. Tapi ternyata dugaan saya salah. Setelah melewati telaga biru dan berjalan menuju basecamp, waktu yang dibutuhkan saya, Ridwan, dan Mas Galih menjadi lebih lama. Hari sebelumnya perjalanan basecamp – telaga biru hanya sekitar 30-45 menit. Kali ini, kami berjalan sudah lebih dari 1 jam dari telaga biru menuju basecamp. Ada apa sebenarnya? Kami seperti hanya berputar-putar disuatu tempat. Tanpa merisaukan hal yang tidak-tidak, kami hanya terus berjalan dan berharap cepat sampai di basecamp.

Akhirnya, 21 Desember 2015 pukul 01.30 WIB kami semua, 11 orang, sampai dengan selamat di basecamp gede – pangrango.

See you on the next trip!!!!!!!

Sumber foto: Mbak April, Dwi, dokumentasi pribadi.

 











 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar