“Akhirnya, 19 Desember 2015 pukul 15.40 WIB. Saya sampai di PUNCAK GUNUNG GEDE 2958 mdpl.”
“Yeaaayyy, Ich habe es gemacht!”
kata yang muncul sekilas di otak saya. Kenapa tiba-tiba muncul? Karena, seperti
yang saya bilang di postingan sebelumnya. Terbesit di otak saya, bahwa saya mau
nyerah “udah sampe sini aja, udah ga kuat”, tapi itu semua hilang seketika saat
melihat pendaki lain yang menuju puncak dengan membawa gembolan besar di
punggungnya yang mungkin beratnya lebih besar dari berat badannya sendiri masih
tetap berjalan walaupun pelan-pelan. Sedangkan saya tidak membawa beban apapun,
masa iya kalah.
Setelah puas mengambil beberapa gambar di Puncak Gunung
Gede, saya dan Mbak April pergi meninggalkan Puncak Gunung Gede. Sayangnya view yang didapatkan tidak seindah referensi yang didapat dari internet
karena kabut mulai turun.
Kurang lebih pukul 16.00 WIB Mbak April, saya dan Mas Fattah
mulai menuruni gunung menuju Kandang Badak, tempat dimana rombongan kami
mendirikan tenda. Tiba-tiba pertanyaan muncul di otak saya tentang “Tanjakan
Setan” tadi. Tanjakan dengan kemiringan 60-70 derajat, didominasi bebatuan
besar dan tinggi, hanya berpegang pada beberapa tali. Naiknya bisa, turunnya
gimana? Bagaimana cara saya melewatinya? Apa tidak ada jalan lain? Kalo tidak
hati-hati, terpeleset, jatuh, tamatlah sudah. Kenapa? Karena pada dasarnya saat
mendaki gunung, manusia bergerak ke atas atau melawan arah gravitasi. Sedangkan
saat menuruni gunung, manusia bergerak kebawah atau sesuai arah gravitasi. Itulah
yang membuat resiko saat menuruni gunung menjadi lebih besar. Pada akhirnya
Mbak April, saya, dan Mas Fattah menuruni Tanjakan itu dengan cara berpindah
dari batu satu ke batu yang lain sambil duduk, dan berpegangan pada tali yang
sudah ada. Setelah melewati tanjakan setan tadi, kami melanjutkan perjalanan
menuju Kandang Badak. Dari Puncak Gunung Gede – Kandang badak membutuhkan waktu
sekitar 1,5-2 jam. Bagi pendaki yang sudah expert
atau berbadan kecil tapi kuat seperti (Erna dan Dwi) hanya membutuhkan
waktu 1 jam saja untuk menuruni gunung ini. Pukul 18.00 WIB saya, Mbak April,
dan Mas Fattah sampai di Kandang Badak lalu menuju tenda rombongan kami. Masuk
ke tenda, menggelar matras, mengatur posisi tidur, istirahat, sholat, dan lain
sebagainya.
Alhamdulillah cuaca hari itu sangat bersahabat, saat mendaki
(basecamp-kandang badak – puncak gunung gede) tidak turun hujan, saat turun (puncak
gunung gede-kandang badak) pun tidak turun hujan, dan malam tidak terlalu
dingin. Menurut saya, pendakian gunung kali ini, termasuk pendakian yang paling
enak. Malam pun datang, suasana di luar tenda semakin hening. Hanya tenda kami
yang masih cukup riweuh. Mulai dari
yang masak makanan, masak air, main kartu uno, dan lain sebagainya. Dan seperti
biasa, saat di gunung saya termasuk orang yang sulit untuk tidur. Tidur, bangun
lagi, tidur lagi, bangun lagi, begitu terus sampai pagi menjelang.
Minggu, 20 Desember 2015 hari baru dimulai.
Alarm handphone berbunyi, sang fajar mulai menampakan
sinarnya dari ufuk timur, dan dari luar tenda terdengar suara “Bangun oy, pangrango yuk”. Bersiap
mendaki lagi menuju Puncak Gunung Pangrango, walau sebenarnya istirahat nya
belum cukup. Akhirnya kami, 11 orang berangkat menuju Puncak Pangrango. Jalur
menuju Puncak Gunung Pangrango ini kurang diminati banyak orang. Karena
jalurnya yang lebih panjang, lebih terjal walaupun banyak “bonus”, banyak
sekali pohon tumbang yang membuat para pendaki lebih capek karena para pendaki harus loncat, ngolong, apalagi bagi pendaki yang membawa gembolan besar
dipunggungnya harus mengeluarkan tenaga extra untuk melewati jalur ini. Seperti
biasa, posisi saya selalu berada di belakang rombongan bersama sweeper terbaik (Ridwan dan Mas Galih).
Cukup lama sudah kami berjalan, tiba-tiba TURUN HUJAN cukup deras. Membuat
waktu perjalanan semakin lama, karena kami harus ekstra hati-hati melewati
jalur yang licin.
Semakin ke atas, jalur yang dilewati semakin sulit, semakin
terjal, semakin sempit karena harus melewati jalur air, semakin kelelahan,
nafas semakin pendek, dan semakin kedinginan karena basah kuyup kehujanan.
Karena hujan cukup deras, 2 orang dari rombongan kami terpaksa harus turun
kembali untuk mengantarkan jas hujan. Saya menerima apa yang diberikan, jas
hujan yang entah milik siapa dan kembali berjalan menyusuri jalur. Setelah lama
berjalan, sampailah kami di Puncak Gunung Pangrango 3019 mdpl Puncak tertinggi
kedua di Jawa Barat. Puncak Gunung Pangrango bukanlah tempat terindah, karena
puncak pangrango hanyalah sedikit lahan datar yang tertutup banyak pepohonan. Walau
sudah sangat lelah, muka yang tidak tau lagi seperti apa bentuknya. Tetap saja,
harus ada momen yang terabadikan. Mengambil sedikit foto disana, dan kembali
berjalan menuju Lembah Mandalawangi.
Konon katanya, Lembah Mandalawangi dahulunya adalah sebuah
gunung api yang sangat besar dan meletus dengan dahsyatnya, lavanya mengalir ke
segala arah, batuannya menyebar sampai ke kaki Gunung Salak dan Kota Bogor.
Saat ini Gunung Mandalawangi sudah tidak ada lagi, hanya meninggalkan bekas kawah
Mandalawangi atau yang dikenal sebagai Lembah Mandalawangi, dan anak gunungnya
yang dikenal adalah Gunung Pangrango.
Sesampainya kami di Lembah Mandalawangi beberapa dari
rombongan kami sudah ada yang duduk manis dibawah spanduk dan beberapa ponco.
Spanduk yang tadinya digunakan untuk alas duduk, malah dijadikan untuk melindungi
kepala dan badan dari hujan. Iya, hujan masih setia menemani kami walaupun
hanya rintik-rintik kecil ditambah kabut yang enggan pergi tetap membuat kami
menggigil kedinginan. Berbekal bahan makanan yang telah dibawa, beberapa orang
dari rombongan kami memasak menu makan siang disana. Makan siang kali ini
termasuk menu yang enak. Kenapa? Karena menu kali ini jauh dari per-MIE-an.
Biasanya menu makanan kebanyakan orang yang mendaki gunung tidak jauh dari MIE
INSTAN, karena tidak ingin ambil pusing soal makanan, yang penting perut
terisi. Skip~~
Makanan sudah habis, bercanda-gurau pun kami lakukan cukup
lama tapi matahari tak kunjung memperlihatkan sinarnya. Padahal kami sudah
sangat kedinginan, semua jaket basah, baju pun basah. Berpikir untuk beranjak
dari bawah spanduk menuju ke padang edelweis, mengambil beberapa foto dan
menghilangkan rasa dingin yang sudah menusuk tulang. Saat cuaca cerah, lembah
mandalawangi ini menjadi salah satu tempat yang digemari pendaki untuk
berfoto-ria. Sayangnya, saat kami kesana, hanya putihnya kabut yang kami lihat.
Jarak pandang hanya sekitar 10 meter, angin berhembus dengan kencangnya. Tapi kami
tetap berfoto-ria disana, mulai dari selfie,
foto berpelukan, sampai foto-foto ala siluet.
Hujan tak kunjung berhenti, hanya intensitasnya saja yang
berkurang. Kami putuskan untuk segera turun menuju kandang badak. Kembali menyusuri
jalur itu, jalur yang dipenuhi pepohonan yang tumbang, loncat sana, ngolong
sini. Berjalan terus, ditemani hujan, senda gurau, dan alunan suara “pelangi di
mata mu” dari Erna (lupa siapa yang request). Tanpa disadari kami berjalan
sudah cukup lama tapi tak kunjung sampai di kandang badak, dan tiba-tiba HUJAN
TURUN dengan derasnya. Tanpa mengenakan jas hujan perjalanan terus dilanjutkan,
karena tempat tujuan ternyata sudah dekat. Mungkin waktu itu menunjukan pukul 5
atau 6 sore kami sampai di kandang badak, langsung menuju tenda. Tenda rombongan
kami sebenarnya ada 3, tapi pagi tadi sebelum menuju puncak gunung pangrango salah
satu tenda itu sudah dilipat dan itu membuat 3 orang dari rombongan kami
(Ridwan, Mas Galih, Mas Yaqin) harus menunggu diluar tenda cukup lama hanya dengan
dinaungi payung dan dibekali biskuit untuk mengisi perut.
Sambil ditemani suara rintik hujan kami mulai packing kembali. Memasukkan barang-barang
ke dalam carrier untuk siap-siap pulang menuju basecamp. Aaahhhhh, masih lelah
rasanya badan ini. Tapi tetap harus pulang. Andai saja bisa seperti Do Min Joon
(pemeran drama korea yang bisa teleportasi). Setelah semua siap dengan gembolan
besarnya masing-masing dan hujan pun sudah berhenti, sekitar pukul 8 malam kami
meninggalkan kandang badak menuju basecamp. Perjalanan malam hari, turun
gunung, iya, kami harus ekstra hati-hati. Selalu memeriksa keberadaan teman
didepan atau dibelakang agar tidak terpisah dari rombongan. Jalur yang kami
lewati sama dengan saat kami pergi. Kandang Badak – Pos Kandang Batu – Pos Air
Panas – Rawa Denok – Telaga Biru – Basecamp.
Perjalanan Kandang Badak – Kandang Batu – Pos Air Panas
lancar jaya walau ada sedikit gangguan. Untuk melewati pos air panas pada malam
hari kami harus ekstra hati-hati, selain karena penerangan yang minim juga air
disana menjadi lebih panas dibandingkan saat siang hari. Jika tidak hati-hati,
kaki bisa terkena air panas, licin, terpeleset, masuk jurang, tamatlah sudah.
Selepas pos air panas kami berjalan lagi menuju rawa denok. Perjalanan menuju
rawa denok pun lancar jaya.
Sesampainya di rawa denok, kami terus melanjutkan perjalanan
menuju telaga biru. Melewati jembatan di rawa denok pada saat itu (malam hari)
terasa jadi lebih lama, entah karena memang fisik saya yang sudah lelah atau
ada “unsur” lain dibalik itu semua? wallahu’alam bishshawab.
Kami tetap berjalan tanpa ada rasa curiga. Seingat saya, jarak dari rawa denok
ke telaga biru itu tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar 1 atau 1,5 jam lagi
sudah bisa sampai basecamp. Tapi ternyata dugaan saya salah. Setelah melewati
telaga biru dan berjalan menuju basecamp, waktu yang dibutuhkan saya, Ridwan,
dan Mas Galih menjadi lebih lama. Hari sebelumnya perjalanan basecamp – telaga biru
hanya sekitar 30-45 menit. Kali ini, kami berjalan sudah lebih dari 1 jam dari
telaga biru menuju basecamp. Ada apa sebenarnya? Kami seperti hanya
berputar-putar disuatu tempat. Tanpa merisaukan hal yang tidak-tidak, kami
hanya terus berjalan dan berharap cepat sampai di basecamp.
Akhirnya, 21 Desember 2015 pukul 01.30 WIB kami semua, 11 orang, sampai
dengan selamat di basecamp gede – pangrango.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar